Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Sunday, July 13, 2025

12 Mighty Orphans (2021) dan aku

 Scene seorang perempuan masuk ke bangsal anak laki-laki sambil berseru memanggil nama seorang anak, sebutlah CD. Ternyata dia adalah ibu yang meninggalkan CD di panti asuhan 7 tahun lalu. Bahkan ibunya tidak tahu berapa umur anaknya. Ibu itu mengajak CD pulang dengan bapak barunya, CD tidak mau dan menyebut panti asuhan itu adalah rumahnya (I am home). Ditamparnya CD dengan kata-kata berintonasi tinggi. Setelah ibu dan bapak barunya keluar dan masuk ke mobil, CD buru-buru keluar panti dan melemparkan bola football ke mobil mereka dengan ekspresi marah di wajahnya, sampai kaca belakangnya pecah.

Aku meminta kekasihku untuk mem-pause filmnya, lalu berdiri berjalan hendak mencuci tangan sambil berkata pelan, "Aku ngga pernah relate sama film kaya gini. Karena aku punya orang tua yang sayang banget sama aku," Air mata mulai menggenangi mata. Mungkin kondisi yang labil dan emosi yang fluktuatif atau memang hati yang lembut yang Tuhan tempatkan di dadaku.


6 Februari 2025

Saturday, July 11, 2020

Ambillah dan Terimalah

“Ambillah Tuhan dan terimalah seluruh kemerdekaanku, ingatanku, pikiranku dan segenap kehendakku, segala kepunyaan dan milikku.
Engkaulah yang memberikan, pada-Mu Tuhan kukembalikan.
Semuanya milik-Mu, pergunakanlah sekehendak-Mu.
Berilah aku cinta dan rahmat-Mu, cukup itu bagiku.”
(Santo Ignatius dari Loyola, Latihan Rohani no 234)

Pernah aku menyanyikan teks doa ini di gereja ketika remaja, memang liriknya di-adaptasi menjadi lagu.  Ada di Puji Syukur, ada juga yang sering dinyanyikan ketika misa pernikahan, aransemen Bapak Onggo Lukito.  Dulu ketika menyanyikannya tidak terpikir mengenai artinya, merenungkan makna dari tiap kata dan kalimatnya.

Tahun 2018 aku mengambil sebuah kursus mengenai Spiritualitas Ignatian, katakanlah begitu, di gereja Theresia yang bertajuk Schooled by Spirit.  Di kursus ini dibahas mengenai karakteristik dan nilai dari Spiritualitas Ignatian, latihan rohani menurut St. Ignatius dari Loyola, buku-bukunya juga seputar itu dan autobiografi dari Santo Ignatius dari Loyola, ndilalah doa ini hampir selalu didoakan bersama di awal kelas. Di sinilah aku baru ngeh tentang doa ini.  WOW!!!  Ini doa penyerahan diri total kepada Sang Pencipta, persembahan hidup kepada Tuhan. 

Biasanya kalau kita berdoa, entah dengan ujud apapun: minta dilancarkan ujian, dimudahkan mendapat pekerjaan baru, diketemukan dengan jodoh yang seiman, menemukan panggilan hidup sesuai yang Tuhan mau, atau entah apapun; kita pasti memohon agar Tuhan mengabulkan permohonan kita, “Tuhan kabulkanlah doaku,” tapi di doa Ambillah dan Terimalah, baru aku kepikir bagaimana kalau Tuhan benar-benar mengabulkannya, wah... yakin ? Sudah siap belum ya ? Ha ha ha...

ps: Link lagu Ambillah dan Trimalah 

Wednesday, April 29, 2020

Good Quotes #1 - Movie Edition

Ketika menonton Chhichhore (2019) ku temukan beberapa quote bagus dalam scene-scene filmnya. Film ini menceritakan anak-anak mahasiswa yang terkenal kurang pandai, di kelompokkan dalam asrama tertentu dan mendapat julukan loser. Dalam perjalanannya mereka berusaha mengakhiri julukan itu dan membuat sebuah gebrakan bahwa mereka patut mendapat penghargaan juga.


"Kita persiapkan kalau ia sukses. Tapi andai ia gagal, kita tidak persiapkan dia agar menerima kegagalan. Dan tidak ada yang mau membicarakan itu."


"Hasil ujianmu tidak menentukan kau seorang pecundang atau bukan. Yang penting seberapa besar usahamu."


"Sekarang pergilah, tapi bukan sebagai pecundang, tapi sebagai pejuang."


"Kita terlalu memikirkan menang, kalah, sukses dan gagal, hingga kita lupa cara menjalani hidup. Hal terpenting dalam hidup adalah hidup itu sendiri."


Film India lain yang cukup berarti untuk dimasukkan dalam watch list adalah Super 30. Sama-sama berkisah tentang pendidikan, kisah nyata tentang seorang ahli matematika yg mendirikan pusat bimbingan belajar khusus untuk anak-anak miskin dan terpinggirkan yang sungguh mengharukan, penuh dengan pembelajaran dan makna hidup.



"Kebutuhan adalah ibu dari penemuan"


Ignasius Loyola. Film diangkat dari autobiografi Santo Ignatius dari Loyola, seorang Saint, Soldier, Sinner (Orang kudus, tentara, dan pendosa).



"Mudah untuk berimat bila segala-galanya berjalan dengan baik"


Bakhita. Sebuah buku biografi tentang Santa Bakhita. Seorang kudus kelahiran Afrika yang pernah menjadi budak selama puluhan tahun dari masa kecilnya, mengalami penderitaan yang tak terperikan, akhirnya berkat Tuhan mendapat jalan ke Itali dan masuk ke dalam biara.


"Dia telah menentukan saya untuk HAL-HAL YANG LEBIH BAIK"


"Hamba yang malang dan Gurunya yang baik"


"Kegembiraan yang hanya para malaikat dapat melukiskannya"


"Pada waktu-waktu tertentu, hal yang terbaik bagi kita adalah bukan yang kita anggap sebagai yang terbaik bagi diri kita, melainkan apa yang Tuhan kehendaki dari diri kita"



Dolittle, film Hollywood tentang seorang dokter hewan yang hidup menyendiri. Diperankan oleh Robert Downey Jr.


"Wajar jika merasa takut"

Sunday, April 26, 2020

Membandingkan Holland Bakery dan Bread Talk


Dua hari yang lalu, ketika mencuci tangan, tiba-tiba terbesit dalam pikiran, dan langsung kutanyakan kepada kakakku yang sedang mandi "Menurut lu, kalau gerai Holland Bakery dan Bread Talk di jakarta jumlahnya sama, dengan kondisi pasar seperti sekarang, siapa yang lebih untung ?" Dari situ, timbul diskusi dan pemikiran-pemikiran yang sederhana namun cukup menarik untuk disimak, setidaknya olehku.

Tempat (Place)
Bila dilihat dari segi tempat, mungkin keduanya memiliki kekuatan tersendiri. Bread Talk selalu tampil di mall-mall terkemuka, yang keramaiannya tidak perlu dipertanyakan. Lalu bagaimana dengan Holland Bakery ? Bukankah Holland Bakery menyewa satu gedung/ruko sendirian, dengan beberapa lantai ? Memang begitu adanya, tetapi dilihat dari harga sewa, menyewa gedung dan menyewa counter di mall sangatlah jauh perbedaannya. Di Senayan City, bisa habis 30-an juta/bulan utk sebuah counter ukuran 100 m2, CMIIW. Bread Talk memang selalu mengundang perhatian orang, walaupun orang tersebut tidak punya niat untuk membeli roti pada awalnya. Tetapi ketika ia melihat gerai Bread Talk, melihat antrean pengunjung, dan membaui roti-rotinya, bisa jadi niatnya berubah. Lain Bread Talk, lain Holland Bakery. Holland Bakery, di mata saya memiliki ke-eksklusif-an. Yang datang ke Holland Bakery, hanya yang ingin membeli roti/produk lain dari Holland Bakery, memang niat dari awalnya sudah ingin beli roti.

Produk
Ditilik dari produk, Bread Talk memiliki kelebihan dengan mengedepankan inovasi. Lihat saja roti-roti dengan varian rasa dan bentuk. Tidak pernah dijumpai sebelumnya. Coba ingat-ingat sewaktu gerainya pertama kali dibuka di Kelapa Gading, siapa yang
tidak tahu roti abon Bread Talk ? Baik yang putih atau yg coklat, terkenal seantero Jakarta. Holland Bakery masih konvensional, masih dengan produk roti lama, yang belum ada inovasi. Tetapi ia menjual cake. Bread Talk di negeri asalnya pun menjual cake, tapi mungkin belum di-implementasikan di Indonesia.

Trend
Yang sedikit menjadi kekhawatiran saya adalah trend. Bread Talk, menurut ilham saya, merupakan awal dari trend bisnis roti. Terlebih dahulu ada trend Bubble Drink (Bubble Tea), Mr. Celup (sejenis sate tapi direbus). Setelah itu, menyusul donat (dimulai dari JCo). Dua bisnis pertama memang sudah menyurut, bahkan bisa dibilang mati. Dulu, di satu mall, kita bisa menjumpai banyak gerai penjual Bubble Drink. Tetapi sekarang, sudah berguguran. Saya kira trend bisnis roti dan donat, tidak demikian dengan trend sebelumnya. Karena Bread Talk sendiri sudah mulai dari 2003, sudah masuk tahun ke 4 berarti.

Bread Talk
Kakakku berkata bahwa dulu ia pernah dengar dari sebuah stasiun radio tentang strategi Bread Talk, yang sengaja mengeluarkan tidak semua produknya sekaligus, agar tercipta antrean. Dan dengan antrean itu, orang-orang akan berdatangan. Maklum, tradisi "yang rame itu yang enak" masih melekat di jiwa kita. Tetapi dengan menjamurnya bisnis roti, maka Bread Talk bukanlah satu-satunya pemain di bidang ini. Sebutlah Bread Story, Bread King, Bread Corner, dan masih banyak brand-brand yang ikut meramaikan peta persaingan bisnis roti. Gerai Bread Talk pun megah, penuh cahaya terang benderang dan desain yang modis.

Seperti halnya entrepreneur yang terus berinovasi, Bread Talk mengeluarkan produk yang inovatif dan menarik. Tidak ada padanan dalam menu nya. Bahkan jika dalam 3 hari kita berkunjung ke gerai nya, kemungkinan ada menu yang selalu berbeda tiap harinya. Bread Talk merupakan merk franchise, jadi pasti ada franchise fee, jadi keuntungannya pun otomatis terpotong. Jangan lupa dengan konsep dapur terbuka dari Bread Talk, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi bisnis roti yang satu ini.

Holland Bakery
Nama Holland Bakery, menurut saya, nama yang sudah terlanjur populer di benak konsumen. Brand imagenya kuat. Sama seperti Aqua dalam merk air mineral. Pernah kakak dari teman saya yang bersuamikan orang Belanda dan hidup di Belanda, singgah ke jakarta, ia membeli roti. Holland Bakery yang dipilihnya.
Yah dari sedikit-banyak keuntungan 2 merk ini, saya akhirnya memutuskan bahwa jawabannya adalah Bread Talk.

(tulisan ini ada sejak tahun berdirinya Bread Talk, entah kenapa penulis tidak mempublish nya pada saat itu)

Friday, March 19, 2010

Topeng

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

Sepenggal bait dari syair lagu yang sempat booming di awal tahun 2000-an, dipopulerkan oleh band kenamaan Peterpan, judulnya singkat "Topeng"

Seorang kawan yang pelukis memiliki kegemaran melukis di kanvas dalam ukuran yang besar. Lebih kurang 1,5 x 1,5 meter, bisa lebih besar dari itu. Ciri khas dalam tiap lukisannya adalah selalu ada topeng dan bunga kamboja. Beberapa lukisannya, yang masih tertata rapi di rumahnya, pernah ia tunjukkan padaku.
Di setiap lukisan bertokoh manusia, pasti manusia itu mengenakan topeng. Rasa penasaran yang begitu meluap akhirnya tersalurkan ketika aku bertanya "Mengapa selalu ada topeng ?"

Lebih kurang penuturannya seperti ini, manusia ketika ia keluar dari rumahnya ia menggunakan 'topeng', sebut saja topeng A. Ketika sampai di kantor, ia pakai topeng B. Ketika pulang, mampir ke rumah ibadahnya maka topeng C yang dikenakannya. Kembali ke rumah, topeng D ia pakai.

Manusia pada umumnya, seolah-olah sedang menjalankan aturan permainan dari sebuah, atau beberapa permainan dengan pola tingkah laku tertentu, yang dalam artikel ini disebut dengan topeng.
Mungkin sekali kita tak bermaksud untuk memakainya, atau bahkan tak sadar bahwa kita bertopeng.
Topeng merupakan tembok yang memisahkan kita dari orang lain, sekaligus berfungsi sebagai perisai yang mencegah orang lain untuk lebih mendekati kita.

Di balik topeng itu, kita menyembunyikan diri di dalam dunia kita yang kecil, terpisah dari yang lain.

Jangan bertanya mengapa kita bertopeng ! Tapi sadarilah kita sering memakai topeng ketika menghadapi orang lain. Konsekuensi dari bertopeng sunggu besar bagi kehidupan kita dan relasi kita.

Tuesday, March 2, 2010

Jakarta bukan tempat sampah

Theme song Go Green Campaign

(dinyanyikan dengan menggunakan irama "Nidji - Laskar Pelangi")

sampah adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
buanglah dia pada tempatnya
jangan engkau sembarangan

reff.
jakarta bukanlah tempat sampah
jangan engkau mengotori dia
sadarkah kau akan pengaruhnya
tempat kita tinggal dan mencinta

hidup di alam dunia
harus bisa menjaga dan merawat
jangan engkau mengambilnya
demi keuntunganmu saja

Tuesday, May 19, 2009

Senyum

Hidup kita bagaikan sebuah film yang sangat panjang. Alangkah baiknya jika dalam setiap scene/adegan, kita dapat tersenyum dengan riang. "Smile can take you everywhere" kata seorang sahabat. Benar adanya. Tidak ada ruginya kita tersenyum. Bisa jadi kita mendapat senyuman balik dari orang yang kita beri senyum. Senyum adalah bahasa universal. Semua negara, semua agama,
semua suku bangsa mengetahui senyum.
Jadi... tersenyumlah kawanku ! ^___^

Wednesday, April 8, 2009

Perisai Hati

Membicarakan orang lain, apalagi keburukannya, buat sebagian besar orang adalah perbuatan yang menyenangkan. Biasanya kita menyebut kebiasaan ini dengan istilah 'gosip'. Parahnya, kebiasaan ini menjadi agenda acara rutin untuk tiap acara kumpul-kumpul, semisal arisan. "Eh... eh.. tau gak sih si A itu begini begini begini..." Saya disini tidak ingin membahas tentang gosip itu sendiri, tapi lebih ke efeknya.
"Si A itu orangnya sombong banget, masa waktu itu bla...bla...bla", ujar X salah satu teman H. Otomatsi, dalam alam bawah sadar si H, akan muncul persepi bahwa si A adalah orang yg sombong. Mulai timbul perisai di hati H untuk A. Memang kejadian ini tidak mutlak terjadi pada setiap orang, tapi berlaku bagi kebanyakan orang.
Hendaknya kita tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang, sebisa mungkin menghindari topik-topik pembicaraan tentang kejelekan orang lain, dan selalu berpikir positif. Alangkah baiknya jika kita membicarakan kebaikan dari orang lain. Memang ini semua tidak mudah dilaksanakannya, tapi baik untuk kita

ps: penulis juga bukan orang sempurna, masih terkadang melakukan kebiasaan itu. Tapi perlahan-lahan belajar untuk menghilangkannya

Friday, April 3, 2009

Hadiah untuk Diri Sendiri

Pernahkah terpikir oleh kita untuk memberi hadiah pada diri kita sendiri ? Suatu berkumpul dengan teman-teman sekomunitas pada suatu masa, ada yang dalam ceritanya menyinggung tentang topik ini. Jujur bagi diriku, hal ini masih sangat asing di telinga. "Hadiah kan biasanya dari orang lain ?"

Kadang kita juga perlu memberi hadiah pada diri kita sendiri, terlebih pada hari spesial, ulang tahun misalnya. Bentuknya bisa macam-macam, sekedar
window browsing di mall favorit, memanjakan diri di salon, membeli barang yang diinginkan atau sekedar bersantai di rumah sambil menonton DVD.

Diri kita perlu penghargaan, tidak dapat dipungkiri, semua orang membutuhkan itu. Bukan saja dari orang lain, tapi juga dari diri kita sendiri.


Mari kita tidak lupa memberi hadiah pada diri kita sendiri

Tuesday, October 14, 2008

Kasta

Karena 'keributan' di kantor, maka diadakanlah research kecil-2 an tentang kasta, inilah hasilnya:

Kasta dari bahasa Portugis adalah pembagian masyarakat.

Kasta yang sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang, atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu, semestinya harus dibedakan dari warna atau Catur Warna (Hindu), pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu:

  1. Kaum Brahmana, para pandita dan rohaniawan.
  2. Kaum Ksatria, para anggota lembaga pemerintahan.
  3. Kaum Waisya, para pedagang, petani, tukang dan sebagainya.
  4. Kaum Sudra, golongan pekerja kasar, rakyat jelata
  5. Kaum Pariya, Golongan orang orang terbuang yang dianggap hina
  6. Kaum Candala, Perkawinan Antar Warna


The later Hindu concept of Varnashrama dharma (IAST:Varṇāśrama dharma, Devanagari: वर्णाश्रम धर्म) refers to the system of classes of social life and stages of individual life in Hinduism. The classes of society are as follows[3]:

  • Brahmin - "scholarly community," includes the priests, scholars, law specialists, ministers, and diplomats.
  • Kshatriya - "high and lower nobility" includes kings, noblemen, soldiers, and administrators.
  • Vaishya - "mercantile and artisan community" includes merchants, shopkeepers, businessmen and farm owners.
  • Shudra - "service-providing community" includes mostly manual and farm labourers.


Dulu waktu di sekolah, seinget gw yg diajarin adalah 4 kasta, sama seperti Wikipedia English version.

Tuesday, August 19, 2008

Why sinetron ?

Seorang teman gereja yang kebetulan bekerja di perusahaan film nasional yang cukup popular sempat berdiskusi denganku di sebuah café di daerah Kemang. Ia memaparkan bahwa kritikus/pemerhati film Indonesia sempat mengajukan usulan (atau lebih tepatnya menuntut) agar PH (Production House) untuk membuat acara lain selain sinetron. Karena dianggap, sinetron yang tayang di televisi swasta nasional di Indonesia itu sudah kehilangan esensinya, tidak ada moral story-nya, dan cenderung membodohi masyarakat. Pihak film maker (dalam hal ini PH) menyalahkan station televisi (semisal: RCTI, Indosiar, TransTV, dkk) karena pihak TV-lah yang membeli acara mereka dan “katanya” meminta acara sinetron kepada mereka. Kiblat stasiun TV adalah lagi-lagi rating, yang dimotori oleh AC Nielsen. Rating ini, FYI, didapat dari penonton televisi yang menonton suatu acara di suatu stasiun tertentu pada waktu tertentu. Tentunya penonton ini terpilih secara acak (sampai sekarang, saya belum menemukan satu orang pun yang pernah didata atau didatangi oleh pihak rating ini).


Nah untuk stasiun TV, mereka dihidupi oleh pemasang iklan yang notebene adalah corporate-corporate yang melihat rating dari suatu acara dan menyesuaikannya dengan TM (Target Market) dan segmen pasar mereka. Stasiun TV secara terus menerus memberi tontonan/tayangan kepada penontonnya. Inilah lingkaran setan yang melahirkan sinetron-sinetron (maaf) kurang mendidik yang melahirkan budaya konsumerisme dan anarkis, tanpa adanya kreativitas dan nasionalisme.


Memang tidak fair jika membandingkan negara kita dengan Amerika yang menghasilkan tontonan seri sekelas 24, Prison Break, Smallvile, Friends, Desperate Housewives atau bahkan Oprah. Banyak sekali perbedaan antara dua negara ini. Budaya, pola pikir masyarakatnya, kelas ekonominya, status sosialnya, pemerintahannya (satu demokrasi, satu federal à ini mempengaruhi industri perfilmannya loh...), pendidikan, sumber daya (baik manusia dan alam-nya), dan lamanya kemerdekaannya.


Saya ragu apakah dalam waktu 5 tahun mendatang, Indonesia bisa menerbitkan suatu film seri seperti yang telah disebutkan di atas? Se-meledak, se-seru dan se-hebat mereka-mereka itu. Benar-benar ragu. Bukannya mendewakan Hollywood, tapi pesimis dengan pekerja film di negara ini.


Memang sinetron tidak selamanya jelek, ada juga yang membawa nilai moral dan agama yang baik dan sungguh memiliki implikasi yang positif, tapi yang seperti ini jarang jumlahnya.

Satu hal yang saya petik dari ucapan teman saya, industri ini kurang mau ambil resiko untuk men-create sesuatu yang kreatif untuk dilempar ke pasar. Mau nya untung cepat dan instan. Mana ada yang seperti itu ? serial Friends saja baru meledak di akhir sesi 1, setelah di re-run. Baru akhirnya bisa sampai ada lanjutan sesion nya. Tidak ada yang instan, apalagi dalam hal bisnis.


Jadi, bila business stakeholder (baca: para petinggi di industri film) tidak mau ber-kreatif sedikit (tidak usah banyaklah) dalam membuat dan menggarap filmnya, tentunya jumlah sinetron akan berkurang, yang berimplikasi pada terciptanya tontonan yang lebih segar, mendidik dan berdaya guna bagi masyarakat Indonesia.


Maju terus perfilman Indonesia !

Friday, July 25, 2008

Kasih, puisi menjadi satu

Kasih itu lebih dari sekedar perasaan, kasih itu adalah suatu keputusan. Bukan kasih yang membuat suatu hubungan menjadi langgeng, melainkan komitmen kita terhadap janji yang diikrarkan. Karena itu pertimbangkanlah dengan baik sebelum membuat janji, jangan sampai kau ingkari suatu hari nanti dan akhirnya hanya merusak karya tanganmu sendiri

Cintaku kan ku brikan
Pada yang pantas mendapatkannya
Cintaku tulus dan lembut
Haruslah dapat hati yang layak

Mencari pembantu rumah tangga yang rajin atau kita yang harus rajin ?

Bagi sebagian keluarga yang memiliki pembantu rumah tangga dalam rumahnya, pasti pertanyaan di atas pernah muncul. ”Kenapa sih si X nyuci nya gak bersih ?” ”Kok bisa luntur begini jeans gw ?” ”Barang-barang gw siapa yang pindahin?” dan sederetan pertanyaan atau keluhan lainnya sering dilontarkan antar anggota keluarga. Memang tidak dapat dipungkiri seorang PRT (pembantu rumah tangga) memiliki kapasitas otak yang berbeda dengan majikannya, karena pendidikannya jauh berbeda. Analoginya, kalau dia pintar, dia jadi sekretaris bukannya PRT, simpel nya begitu.

Perlu pengertian yang mendalam, serta pemikiran yang logis untuk ”mengerti” perilaku PRT kita di rumah. Jaman sekarang ini, sulit mencari PRT. Apalagi yang jujur, kerjaannya rapih. Jadi, kalau di rumah kita ada PRT yang sedikit (maaf) bodoh, harap dimaklumkan. Memang pendidikan mereka tidaklah tinggi, dan lingkungan tempat mereka dibesarkan jauh sekali berbeda dengan lingkungan kita. Baik dalam strata sosial, ekonomi, kultur dan budaya.

Menjawab pertanyaan di atas, apakah sebaiknya kita mencari PRT yang rajin dan kerjaannya rapih atau sebaliknya, kita yang harus rajin dan mandiri ? Kembali ke kebutuhan dan keadaan keluarga itu sendiri. Apabila memang tidak memungkinkan mengurus urusan rumah tangga sendiri, baik mencuci, membereskan tempat tidur, nyapu-ngepel, memasak, dll, ada baiknya memanggil PRT bulanan yang tinggal di rumah kita. Pastinya dengan kriteria-kriteria tertentu, semisal: bisa masak, bisa baca-tulis, punya pengalaman kerja sebelumnya di keluarga yang memiliki kesamaan dengan keluarga kita. Poin terakhir menjadi penting, karena di keluarga yang 1 dengan yang lain, aturan yang berlaku berbeda. ”Lain padang, lain belalang” di rumah A, cucian yang telah digosok, dibiarkan menumpuk di keranjang cucian, orang rumah yang memilih sendiri pakaiannya dan kemudian memasukkan sendiri ke lemari pakaian yang disediakan. Sedangkan di rumah B, PRT yang mengklasifikasikan pakaian si A masuk ke lemari pakaian si A, dan seterusnya. Karena itu pengalaman diperlukan.

Analogi untuk pertanyaan di atas adalah keluarga yang mandiri, cukup memiliki PRT yang job desc nya cukup membantu. Untuk keluarga yang aktifitasnya tinggi, perlu memiliki PRT yang tidak sekedar membantu, tapi mampu mengurus rumah secara bersih, rapih dan rajin.

Maaf jika tulisan ini menyinggung perasaan pembaca, tulisan ini murni argumen pribadi tanpa bermaksud men-judge salah satu pihak ataupun menjelek-jelekkan satu pekerjaan.

Ini adalah komentar saya, saya sangat menerima kritik saran dan tanggapan dari pembaca. Silakan memberi komen di tempat yang telah disediakan.

Terlatih Ditolak - sebuah parodi

Aku sudah mulai lupa Saat pertama kali ditolak Dari penolakanyang halus Hingga diusir dari rumahnya *Terima kasih kalian  Barisan penolakan ...