Showing posts with label personal development. Show all posts
Showing posts with label personal development. Show all posts

Wednesday, March 25, 2020

Sparing Partner

Tak lama setelah gate tol-ku terbuka, sebuah sedan melesat dengan sangat cepat. Sontak naluriku berkata "Gassss !!!" segera saja kuinjak pedal gas. Aliran adrenalin ke seluruh tubuhku membuat semangat menjadi-jadi, jantung berdenyut lebih cepat. Banting kanan, hajar kiri, tak terasa speedometer menunjuk angka 140 kmh.

Awalnya dari tampak belakang kukira mobil itu Honda Accord hitam. Beruntung ia terjebak dengan mobil-mobil di depan dan sekitarnya, sehingga jarak kami pun makin dekat, barulah aku tau sparing partner-ku adalah sebuah BMW 3 series warna biru terang. Wow ! Pantas tak bisa kukejar dengan Honda Mobilio matic tipe E yang jadi peganganku. Meskipun aku tahu, dari spesifikasi mobil, top speed, akselerasi dan lainnya, BMW biru itu sangat di atasku, tak ada peluang aku untuk menang, tapi aku tak menyerah begitu saja. Terus saja ku melaju, tak kenal kata menyerah, kumatikan AC dalam kabin, agar power bertambah. 

Saat-saat menegangkan pun tiba, ketika masuk tikungan perpecahan arah Bintaro Serpong dan tol merak-bandara. Ia masuk dari dalam, kuhajar dari luar. Kuturunkan transmisi dari D ke S agar engine break. Rem kumainkan dan fokus pada steering wheel. Sering terdengar bunyi berdecit, membuat jantung makin berdetak dengan cepat; adrenalin semakin menyembur. Aku berhasil mengimbangiya saat tikungan itu, tapi saat tikungan berakhir, akselerasi BMW itu pun meninggalkanku jauh. Apalagi ketika masuk jalan lurus, dengan sedikit mobil dan hambatan di lintasan, jarak kami pun makin jauh.

Keluar pintu tol Pondok Raji, tujuanku, total waktu hanya 7 menit, rekor bagiku. BMW itu pun exit nya sama. Baru saat ia berhenti mengantri di pom bensin, baru aku menyusul dia. Ingin rasanya aku berhenti, turun dan menyapa sang pengendara, berterima kasih sudah memberi inspirasi bagiku dan perasaan yang sudah lama tak kurasa.

Wednesday, September 7, 2011

Paku


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. 

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. 

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. 

Mohon maaf lahir dan batin

Wednesday, October 13, 2010

Apa kata orang ?

Seorang ayah, putranya dan seekor keledai berjalan beriringan dari desa A menuju desa E. Ketika memasuki desa B, orang-orang bersungut-sungut dan berkata sinis, "Kasihan sekali anak laki-laki itu, pasti capai berjalan. Dasar ayah tidak tahu diri, kenapa dibiarkan anak kecil itu berjalan jauh, bukannya dinaikkan saja ke atas keledai." Karena itu, keluar dari desa B, si ayah mendudukkan anak laki-laki itu di atas keledai dan melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di desa C, di sepanjang jalan orang banyak menunjuk-nunjuk dan berkata, "Dasar anak tak tahu diri ! Pasti ayahnya capai sekali berjalan jauh. Anak tak tahu diuntung ! Bukannya ayahnya saja yang duduk di keledai." Merasa terusik, keluar dari desa C, si anak turun dan mempersilakan ayahnya naik ke atas keledai.
Tiba di desa D, orang-orang sekitar mereka memandang penuh iba dan berkata, "Wah ! Pasti keledainya kecapaian, beban yang ditanggung berat, seorang laki-laki dewasa. Mana perjalanannya jauh pula." Keluar dari desa D, ayah dan anak itu kemudian memanggul keledai tersebut dan melanjutkan perjalanan.

Mengena sekali cerita di atas jika kita mengingat-ingat kejadian yang terjadi dalam keseharian. Waktu kita sudah punya rencana akan suatu hal dan kemudian menjalankannya, ada saja orang yang berkomentar (entah komentar baik, atau komentar miring) atau bahkan berkata "kenapa kamu melakukan itu ? kenapa tidak begini begitu saja"

Pendapat orang lain

Banyak kepala makin banyak pendapat, banyak pandangan. Ada segi positif dan negatif dalam setiap hal. Dari cerita di awal, bisa ditangkap beberapa pesan, salah satunya: ayah dan anak itu tidak punya pendirian yang teguh; mudah terpengaruh omongan orang lain; atau punya keinginan tidak ingin dibicarakan jelek oleh orang lain. Tidak mau kalau tidak disukai atau disalahkan.

Kalau boleh diambil contoh ekstrim, Yesus Kristus pada masaNya, dengan segala mukjizat, kebijaksanaan dan kebaikannya, masih saja ada orang-orang (bukan hanya 1-2 orang) yang memfitnah, tidak suka, membenci, mencari-cari kesalahan Dia. Ini kita bicara seorang suci, Tuhan, coba kalau dibandingkan dengan diri kita yang hanya manusia.
Cape kan kalau kita punya rencana A, sudah kita pikirkan matang-matang, sedang asik-asik mengeksekusi rencana itu tiba-tiba ada teman yang bilang, "lebih baik pakai cara B, jangan cara A, karena XYZ". Ninggalin A, pindah ke B, sayang A-nya sudah dikerjakan. Gak pindah ke B, dianggap tidak menghargai teman.

Bukannya tidak boleh mendengarkan pendapat orang lain atau terlalu saklek dengan pendapat sendiri, tapi coba milikilah prinsip yang kuat, punya argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan dalam memilih dan melakukan suatu tindakan apa pun. Bagaimana pun juga, orang lain yang memberi pendapat/kritik itu peduli dengan kita. Kalau tidak peduli, ngapain cape-cape ngomong, pasti lebih memilih diam masa bodo. Semua ide yang masuk seyogyanya ditampung kemudian di-filter. Dipilih-pilih, dibandingkan, mana yang lebih baik, apakah bisa memperbaiki pendapat kita pribadi. Dan yang terakhir, jangan terlalu dipikirkan apa kata orang, kita sendiri yang jalani hidup ini.

Tuesday, March 2, 2010

Tired spirit

Cape loch kalau apa pun rencana kita, pemikiran kita, tiap tindakan kita SELALU dipertanyakan oleh orang lain. Bahkan cenderung dipersalahkan. Akan lebih cape kalau orang-orang itu adalah orang yang terdekat, keluarga inti kita. Kemaren gw baru nonton film 3 Idiots di Blitz Megaplex (Pacific Place). Gw inget betul adegan di mana seorang bayi laki-laki lahir, orang tua & keluarganya langsung men-stempel-kan masa depan dia. "Kamu akan jadi insinyur". Tak seorang un menanyakan "apa yang kamu mau". Pada proses perkuliahan, si anak mendapat tekanan yang sangat hebat. Kuliah engineer yang berat, perlombaan untuk menjadi no.1, belum ditambah problem remaja dan keluarga yang dialaminya. Bakat dan minat dia adalah fotografi. Tapi si ayah mengharuskan dia menjadi insinyur.

Can you imagine it ? Hmm...oo sorry, perhaps you had the same experience ^^

Kita inginkan A, keluarga kita inginkan kita jadi B karena alasan X, Y, Z. Teman-teman kita bilang bagusnya kita jadi C. So... what should you choose ?

Memang benar hidup adalah pilihan. Tapi gw tersadarkan dengan tulisan awal pada buku Catch the Spirit yang ditulis oleh Agus Budiman terbitan Tifa Publishing House
Kita melupakan mimpi kita yang dulu membuat jiwa kita bergairah dan mata kita penuh cahaya harap. Sementara kita hidup dikelilingi oleh orang-orang yang gagal. Orang-orang yang tidak merealisasikan mimpi mereka.Mereka, orang-orang yang tak percaya

One big question from me ? What do you want ?
Pernah gak merenungkan, memikirkan masa depan lu ? Lu mau jadi apa, mau membina keluarga dengan siapa, tinggal di mana, anaknya berapa, nanti mau kerja atau usaha atau bahkan jadi biarawan/biarawati ?

Yes, life is a choice. Think about it !

Sebagai penutup, lirik lagu berikut sangat memberi inspirasi dan memotivasi loch... enjoy it

Lirik J-Rocks - Spirit

Takkan pernah lelah ku berlari
lewati semua rintangan yang menghalangi langkahku
dan membatasi mimpi-mimpiku

Ku takkan menyerah
meski lelah jiwa ‘tuk hadapi
Sampai mati ‘ku takkan berhenti

Setiap detik yang t’lah berlalu
Takkan pernah menunggu kita ‘tuk bisa pahami hidup
dan sesali semua yang t’lah lalu

Hadapi saja jangan kau ragu ‘tuk jalani hidup ini

Just spread all of your wings
And always chase your dreams
Leave all the pain and make our life begin
And when it seems to be hard to live in our ways
But we must go on and always struggling
To make all of our dreams come true

[solo]

Just spread all of your wings
And always chase your dreams
Leave all the pain and make our life begin
And when it seems to be hard to live in our ways
But we must go on and always struggling
To make all of our dreams come true

Just spread all of your wings
And always chase your dreams
Leave all the pain and make our life begin
And when it seems to be hard to live in our ways
But we must go on and always struggling
To make all of our dreams come true

To make our dream comes true!

special thanks to: lirik lagu indonesia

Friday, November 7, 2008

Apa yang kita sombongkan ?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air denganember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras.Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya,
"Apa yang sedang Anda lakukan?"Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tibasaya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.
Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah,sombong disebabkan oleh faktor materi.
Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan.
Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasandibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan.
Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah,dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pulakita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan.
Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk
harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi,begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudahberada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombongtidaklah terlalu jelas.Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dankesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalamkeadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring denganwaktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yangkita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwakita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego.

Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualismeketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka).
Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuanganmenuju kesadaran sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya,
ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlahmakhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.
Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia.Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalamkesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah"tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dariberbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kitalakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.
Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupunkepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Be happy!

Thursday, October 16, 2008

Bersahabat Dengan Masalah

"If a problem doesn't kill you, it will make you stronger."

Seorang kawan mengeluh, "Pak, saya kok sering kena masalah ya?
Padahal saya ini sudah rajin berdoa, selalu positive thinking, tidak
pernah bikin susah orang lain, suka menolong orang lain, jujur dalam
bekerja, dan nggak neko-neko. Kenapa ya Pak? Apa masalah saya? Saya
sudah bosan kena masalah terus."

"Wah, selamat ya," balas saya.

"Lho, bagaimana sih Pak Adi ini. Saya punya banyak masalah kok malah
diberi selamat. Senang ya Pak kalau lihat orang susah?" kawan saya
balik bertanya dan agak jengkel.

"Sabar...sabar. .. bukan begitu maksud saya. Jangan tersinggung
dong," jawab saya cepat sambil berusaha menenangkan kawan saya ini.

Nah, pembaca, apa yang saya tulis di artikel ini merupakan hasil
obrolan saya dan kawan saya.

Masalah. Setiap orang pasti punya masalah. Setiap hari kita pasti
berhadapan dengan masalah. Kita berusan dengan masalah. Kita
mendapat masalah. Kita membuat masalah. Kita bahkan bisa jadi sumber
masalah. Masalah terbesar adalah kalau kita tidak tahu bahwa masalah
kita adalah kita merasa tidak punya masalah.

Pembaca, waktu Anda mengalami masalah, bagaimana reaksi Anda?

Apakah Anda marah? Jengkel? Sakit hati? Frustrasi? Takut?
Menyalahkan diri sendiri? Atau Anda cenderung untuk menyalahkan
orang lain?

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya menggunakan
judul "Bersahabat Dengan Masalah". Apa nggak salah, nih? Kita kok
diminta bersahabat dengan masalah?

Benar. "Masalah" sebenarnya adalah hal yang sangat positif. Mari
kita bahas terlebih dahulu makna di balik kata "masalah". Masalah,
yang dalam bahasa Inggris adalah "problem", ternyata mempunyai akar
kata yang maknanya sangat berbeda dengan yang kita pahami selama
ini.

Akar kata "problem" berasal dari bahasa Yunani, proballein, yang
bila ditelusuri lebih jauh mengandung makna yang sangat positif. Pro
berarti forward atau maju. Sedangkan ballein berarti to drive atau
to throw. Jadi, problem berarti bergerak maju. Problem berarti
kesempatan untuk maju dan berkembang.

Sewaktu pertama kali mengetahui bahwa akar kata problem, proballein,
artinya bergerak maju, saya sempat terhenyak dengan perasaan kaget
dan takjub. Sungguh luar biasa dan sungguh benar. Coba kita
renungkan bersama. Masalah sebenarnya adalah suatu simtom yang
menunjukkan adanya suatu penyebab atau akar masalah. Justru dengan
seringnya seseorang mendapat "masalah", bila orang ini cukup bijak
dan jujur pada dirinya sendiri, ia akan berkembang dan bisa lebih
maju.

Lha, kok bisa begini?

Pernahkah Anda, atau mungkin orang yang Anda kenal, mendapat atau
mengalami masalah?

Jawabannya, " ;Sudah tentu pernah."

Pertanyaan saya selanjutnya, "Apakah masalah yang dialami Anda mirip
dengan masalah sebelumnya?"

Jika kita mau bersikap jujur dan jeli dalam mengamati maka
seringkali masalah yang kita alami sifatnya "mengulang" masalah
sebelumnya. Ada kemiripan atau kesamaan. Bentuk masalahnya bisa
berbeda namun polanya sama.

Satu contoh. Ada seorang wanita yang putus dengan pacarnya. Ia
marah, kecewa, sakit hati, dendam, dan bersumpah akan mencari
pasangan yang jauh lebih baik. Namun kenyataannya? Ia mendapatkan
pacar baru yang mempunyai karakter yang serupa dengan mantan
pacarnya.

Ada lagi seorang pengusaha besar, kawan saya, berulang kali kena
tipu. Sekali kena tipu jumlahnya nggak main-main. Bukan puluhan juta
tapi ratusan juta. Dan ini terjadi berulang kali.

Seorang kawan yang lain seringkali ribut dengan istrinya hanya
karena hal-hal sepele. Misalnya hanya karena si istri memencet pasta
gigi tidak dari bawah, tetapi dari tengah, ia marah besar.
Sebaliknya si istri walaupun telah diberitahu suaminya tetap
mengulangi pola perilaku yang sama.

Masalah yang kita hadapi sebenarnya menunjukkan "level" kita. Siapa
diri kita sebanding dengan masalah yang kita hadapi. Bukankah ada
tertulis bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui
kekuatan kita untuk mengatasinya? Dan setiap masalah pasti ada jalan
keluarnya?

Masalah atau problem sebenarnya guru sejati yang seringkali kita
abaikan. Kebanyakan orang mengalami masalah yang serupa atau
berulang karena mereka tidak belajar dari masalah yang pernah mereka
alami.

Ibarat anak sekolah bila kita tidak naik kelas, karena nilai ujian
kita jelek, maka kita akan mengulang di level atau kelas yang sama.
Tidak mungkin guru akan menaikkan kita ke kelas berikutnya. Mengapa?
Lha, soal ujian di level ini saja kita nggak lulus apalagi kalau
diberi soal ujian level di atasnya.

Kita harus mengulang, tidak naik kelas, dengan harapan kita akan
belajar, meningkatkan diri, dan akhirnya mampu mengerjakan soal
ujian dengan benar. Dengan demikian kita "lulus" ke kelas
berikutnya.

Saat tidak naik kelas, bukannya belajar dari "masalah" ini, banyak
yang malah membuat masalah baru dengan menjadi marah, frustrasi, dan
menyalahkan guru atau sekolah. Anda pernah bertemu dengan orang
seperti ini?

"Ah, itu kan anak sekolah. Memang harusnya begitu," ujar kawan saya.

Lho, kita ini kan juga anak sekolah. Kita sekolah di Sekolah
Kehidupan. Kehidupan adalah tempat kita belajar. Untuk maju kita
harus menjadi pembelajar seumur hidup atau life long learner.

Ada yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
Saya kurang setuju dengan pernyataan ini. Menurut saya pengalaman
adalah guru terbaik bila itu pengalaman orang lain. Jadi, kita
belajar dan mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dengan menelaah
dan mempelajari pengalaman orang lain dan kita terapkan untuk
kemajuan hidup kita. Lha, lebih baik mana, Anda kena tipu Rp 1
miliar atau Anda belajar dari pengalaman orang lain yang tertipu Rp
1 miliar dan Anda gunakan pengetahuan ini untuk melindungi diri Anda
agar tidak mengalami masalah yang sama?

Pengalaman adalah guru yang terbaik bila kita dapat memetik
pelajaran berharga dari apa yang kita alami. Kebanyakan orang
mengalami "pengalaman" hanya sekadar mengalami. Mereka tidak memetik
pelajaran atau manfaat apa pun dari pengalaman (baca: masalah)
mereka.

OK. Sekarang sudah jelas bahwa kita bisa belajar dari masalah. Tapi
bagaimana caranya?

Ada empat langkah mujarab untuk mengatasi setiap masalah dalam hidup:
1. Mengakui adanya masalah
2. Setiap masalah pasti ada sumber atau akar masalahnya
3. Bila akar masalah ditemukan maka masalah dapat dipecahkan
4. Jalan keluar untuk menyelesaikan masalah

Contoh konkritnya?

Mari kita analisis kasus yang dialami kawan saya. Itu lho, yang
bolak-balik kena tipu ratusan juta rupiah.

Langkah pertama adalah mengakui atau menerima bahwa ia punya
masalah. Ia harus berani mengakui dan memutuskan untuk mengubah hal
ini. Masalahnya adalah ia berkali-kali kena tipu. Banyak orang yang
bila mendapat masalah, hanya bisa berdoa, pasrah, nrimo, dan berkata
bahwa masalah mereka adalah bentuk cobaan dari Tuhan. Mereka
meyakini bahwa masalah yang mereka alami, karena merupakan cobaan
dari Tuhan, maka Tuhan-lah yang harus mengubah keadaan ini. Saya
tidak setuju dengan pandangan ini. Bukankah ada tertulis bahwa Allah
tidak akan membantu mengubah nasib umat-Nya apabila umat-Nya tidak
bersedia mengubah nasib mereka sendiri.

Langkah kedua adalah memahami bahwa masalah (simtom) yang ia alami
pasti ada sumber atau akar masalah. Dan akar masalahnya bukan
terletak di luar dirinya, misalnya ia tertipu karena kelihaian si
penipu dalam meyakinkan dirinya sehingga mau meminjami uang, tapi
akar masalahnya terletak di dalam dirinya.

Langkah ketiga, bila akar masalah yang ada di dalam dirinya berhasil
ditemukan, maka ia dapat mengatasi masalahnya.

Langkah keempat adalah memilih solusi terbaik yang akan digunakan
dalam mengatasi masalah. Setelah sukses melakukan empat langkah di
atas maka ia dapat memetik hikmah dari apa yang ia alami.

Sekarang akan saya uraikan langkah demi langkah yang dilakukan kawan
saya.

Langkah 1. Masalah: Saya tertipu ratusan juta berkali kali.

Langkah 2. Saya menyadari bahwa akar masalah terletak di dalam diri
saya.

Langkah 3. Akar masalah saya adalah belief yang menyatakan bahwa
saya adalah kasirnya Tuhan.

Langkah 4. Saya mengu bah belief saya, dari kasirnya Tuhan menjadi
Fund Manager uangnya Tuhan. Saya akan mengelola uang yang
dipercayakan kepada saya dengan hati-hati karena saya harus
mempertanggungjawab kan uang ini setiap akhir tahun buku.

Hikmah yang didapat dari masalah ini adalah bahwa apa yang ia alami
dipengaruhi oleh belief-nya. Setiap belief mengakibatkan konsekuensi
tertentu. Cara paling tepat untuk mengevaluasi apakah suatu belief
bermanfaat atau justru merugikan diri kita bisa dilihat dari akibat
yang ditimbulkan oleh belief-belief itu terhadap hidup kita.

Selama seseorang masih tetap memegang belief yang sama maka ia akan
mendapat hasil yang sama. Tidak mungkin terjadi seseorang mendapat
hasil yang berbeda dengan belief yang sama. Einstein menjelaskan
dengan sangat tepat saat ia berkata, "Insanity is doing the same
thing over and over but expecting different result."[awg]

Sumber: Bersahabat Dengan Masalah oleh Adi W. Gunawan. Adi W.
Gunawan lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah
pakar pendidikan dan mind technology, pembicara publik, dan trainer
yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.

Wednesday, October 8, 2008

10 Ciri Billioner

Minggu lalu saya berada di New York City, tepatnya Manhattan, yang
jaraknya kurang lebih 2500 mil dari kediaman saya di San Francisco Bay
Area. Seorang "mogul" alias pengusaha kelas kakap yang berteman dekat
dengan Donald Trump memanggil saya untuk membantunya dalam mendirikan
divisi baru institusi pendidikannya yang sudah mendunia. Sebutlah
namanya Mr. JC.

Sebagai seorang konsultan yang sering mendengar nama Mr. JC ini
disebut-sebut, tentu saja saya sangat girang ketika dikontak oleh
asistennya untuk mengunjungi Si Mogul ini untuk business meeting. Dengan
harap-harap cemas saya mempersiapkan segala sesuatunya agar presentasi
saya nanti tidak memalukan. Namanya saja berbisnis dengan seorang
pengusaha kelas kakap. Siapalah saya ini di matanya.

Ternyata, di luar dugaa n saya, Mr. JC sangat ramah dan informal.
Kecerdasannya tampak jelas dari "being comfortable in his own skin." Ia
sangat nyaman dengan dirinya sendiri, tidak ada unsur intimidasi maupun
berusaha tampak lebih cerdik daripada lawan bicaranya. Sungguh saya
sangat terkesan.

Selama kurang lebih 6 jam perjalanan pulang di pesawat, saya banyak
merenungkan pertemuan ini, terutama mengenai kepribadian Mr. JC yang
sangat menawan. Otak saya yang gemar melakukan studi komparasi kembali
bekerja. Satu per satu wajah orang-orang sukses muncul di benak saya.
Wah, ternyata banyak sekali kemiripan sifat dan perilaku mereka dengan
Mr. JC, yang tampaknya sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat dan
perilaku mereka yang kurang berhasil.

Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan
berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies dan
beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut:

Satu, keberanian untuk berinisiatif.
Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka
selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real
Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu sekarang
sudah membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka. Ada boneka
Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online university
TrumpUniversity. com, bahkan ada t-shirt "You're Fired" dan buku-buku
best-sellernya. Semua berangkat dari inisiatif belaka, yang bisa kita
pelajari dan tiru.

Dua, tepat waktu.
Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti kemampuan
memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita, yaitu waktu.
Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan,
terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap waktu merupakan
pencerminan dari respek terhadap diri send iri dan partner bisnis.

Tiga, senang melayani dan memberi.
Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan
seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to
others, the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada
karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling tidak
dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia betapa
berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk blue print
sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.

Empat, membuka diri terlebih dahulu.
Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal pribadi
tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka biasanya
hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan sangat
sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari
unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk
membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman
dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang
dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama
dengan orang yang misterius?)

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para partner
bisnis.
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald Trump
dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal
sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. "No man is an island,"
kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga jalan
menuju sukses semakin terbuka lebar.

Enam, senang mempelajari hal-hal baru.
Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online
university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor?
Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta
langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas
baginya. Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan tidak
terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-hal baru.

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama.

Lance Armstrong pernah berkata, "There are two kinds of days: good days
and great days." Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang
sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis, walaupun suatu
hari mungkin Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali
gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri
sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana Anda gagal
tetap adalah a good day (hari yang baik).

Delapan, berani menanggung resiko.
Jelas, tanpa ini tidak ada kesemp atan sama sekali untuk menuju sukses.
Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari
penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great
day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun hanyalah
kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari
kan?

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat).

Berpikir positif adalah environment atau default state di mana
keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif
sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini
(kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita
akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin
besar kemungkinannya.

Sepuluh, "comfortable in their own skin"

Alias nyaman dengan diri sendiri tanpa perlu berusaha menut up-nutupi
sesuatu maupun supaya tampak "lebih" dari lawan bicaranya. Pernah
bertemu dengan billionaire yang rendah diri alias tidak nyaman dengan
diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada. Kenyamanan menjadi diri
sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung
karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa
digantikan oleh orang lain.

Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya
sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa
tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset
yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan
diri sendiri.

Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda yang
bisa menjawab

Tuesday, August 5, 2008

Start Your 'Bad Decision' Today

Adnan Khasogi, yang termasuk salah satu orang paling kaya di dunia, pernah ditanya oleh wartawan tentang rahasia suksesnya.

Adnan menjawab "Good Decision, Good Decision, and Good Decision". Wartawan itu lalu bertanya lagi, apa yang menyebabkan dia bisa membuat keputusan yang tepat tersebut. Adnan menjawab "Experiences, Experiences, and Experiences".

Wartawan itu masih penasaran, dan bertanya, hal apa yang menyebabkan Adnan mempunyai pengalaman. Adnan menjawab "Bad Decision, Bad Decision,and Bad Decision".

Apa yang dikatakan oleh Adnan Khasogi diatas menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraihnya saat ini adalah hasil dari kesalahan-2 tindakan yang pernah dialakukan sebelumnya, proses belajar dari kesalahan-2 tersebut menjadi suatupengalaman, dan pengulangan tindakan menjadi lebih baik.

Kita selama ini selalu berpendapat, bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Tapi banyak orang yang keliru menafsirkan definisi dari pengalaman itu sendiri. Jika dalam kehidupan anda pernah patah hati misalnya, apakah itu suatu pengalaman ? Kalau patah hati itu membuat kehidupan anda menjadi suram, dunia terasa hampa, dan anda menjadi enggan untuk berbincang dengan orang lain, itu bukanlah pengalaman. Itu lebih tepat disebut tragedi. Namun jika anda mau melihat lebih dalam, apa yang salah dari

hubungan anda, dan belajar untuk tidak mengulanginya lagi lain kali, itulah pengalaman.

PENGALAMAN ITU BUKAN APA YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN KITA, NAMUN APA YANG KITA LAKUKAN KETIKA ADA SESUATU YANG TERJADI DALAM KEHIDUPAN KITA

Ada sebagian orang yang ingin jalan pintas di dalam hidupnya, dimana mereka ingin langsung membuat `good decision' dalam setiap langkahnya. Mereka ingin melompati tahapan `experiences' dan `bad decision'.

Karena ingin langsung sempurna, langsung sekali jadi, maka mereka membuat banyak sekali analisa dari berbagai sisi. Satu halangan kecil bisa membuat mereka menunda membuat `good decision' tersebut. Pada akhirnya, `good decision' itu tidak akan pernah dibuat, karena waktu mereka habis untuk selalu melakukan analisa dan analisa.

Coba amati di lingkungan sekitar kita. Adakah rekan anda, kerabat atau kolega bisnis yang seperti itu ? Lima tahun yang lalu mungkin mereka pernah mengatakan akan menjadi seorang wirausaha. Tapi sampai hari ini keinginan itu tetap sebuah keinginan.

Mereka akan berkata bahwa ada hal-2 yang menghalangi niat mereka, apakah itu pasar yang lagi sepi, harga bahan baku yang mahal, krisis moneter, dollar lagi tinggi, dsb.

Tapi sebenarnya bukan itu yang menghalangi mereka. Halangan mereka yang utama adalah mereka takut bila ternyata `good decision' yang mereka buat ternyata sebuah `bad decision'.

Sebenarnya apakah yang menakutkan dari membuat sebuah `bad decision' ?

Sebenarnya `bad decision' hanyalah sebuah proses, dan tidak final sifatnya. Proses ini akan menjadi kesalahan jika kita keliru mempersepsikannya serta memberikan respon yang keliru. Dan kesalahan akan menjadi kegagalan jika kita terus menerus memberikan respon yang keliru terhadapnya.

Orang-orang sukses adalah mereka yang mengubah `bad decision' menjadi suatu pelajaran, memperbaiki keputusan mereka dan melakukan dengan cara yang berbeda.

Karena sesungguhnya, jalan menuju kesuksesan pasti melewati suatu kegagalan.

Hanya mereka yang berani membuat `bad decision' dan belajar daripadanya yang akan mencapai tujuannya.

Terlatih Ditolak - sebuah parodi

Aku sudah mulai lupa Saat pertama kali ditolak Dari penolakanyang halus Hingga diusir dari rumahnya *Terima kasih kalian  Barisan penolakan ...