Friday, June 29, 2012

Bungkus dan isi


Hidup akan sangat melelahkan,sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus bungkusnya saja dan mengabaikan isinya. Bedakanlah apa itu bungkus dan apa itu isi.
Rumah yg indah hanyalah bungkus,keluarga bahagia itu isinya. 
Pesta nikah hanya bungkusnya,cinta kasih,pengertian,dan tanggung jawab itu isinya. 
Ranjang mewah hanya bungkusnya tidur nyenyak itu isinya. 

Makan enak itu bungkusnya; gizi,energi dan sehat itu isinya. 
Kecantikan dan ketampanan hanya bungkusnya, kepribadian itu isinya. 
Buku itu bungkusnya; pengetahuan itu isinya. 
Jabatan itu bungkusnya; pengabdian dan pelayanan itulah isinya. 
Karisma hanya bungkusnya; karakter itu isinya. 

Utamakanlah isinya namun rawatlah bungkusnya.

Sunday, April 15, 2012

We Love You Mas Tama




We Love You Mas Tama
song: Jamrud
lirik: Trans TV crew

"...pada kami semangat di hati

awal terasa sulit
dimaki maki, sampai kuping sakit
yang penting kamu
beri kami semangat yang tinggi

Semoga Tuhan melindungi kamu
serta tercapai semua angan dan cita-citamu
mudah-mudahan diberi umur panjang
sehat selalu Mas Tama

Semoga Tuhan melindungi kamu
serta tercapai semua angan dan cita-citamu
mudah-mudahan diberi umur panjang
sehat selalu Mas Tama

we love you Mas Tama
we love you Mas Tama
we love you Mas Tama"

Wishnutama
Presiden Direktur dari PT. Televisi Transformasi Indonesia dan Direktur Produksi dari PT. Nusantara Tivi Tujuh, ke duanya dalam naungan CT Corp.

Baru kali ini melihat ada acara farewell yang di-organized dengan waktu yg sempit, kreativitas yg tinggi dan menggemparkan media. Twitter heboh, media heboh, blogger juga heboh...

Menurut gw, dia seorang pemimpin yang dicintai oleh bukan hanya karyawan-karyawannya tapi juga ex-karyawannya. Inovatif, kreatif, dan visioner.

Special thanks to zulkidankiplay for uploading the video to Youtube

Sunday, March 4, 2012

Pintu Kamar Mandi


“Jangan dipakai !  Jangan dibersihkan!”
Dua kalimat seru  itu di print di atas karton yang di-laminating dan ditempel di depan pintu kamar mandi.  Ketika diundang ke salah satu Rumah Sakit swasta di bilangan Tangerang, saya masuk ke ruang direktur dan bicara dengan penghuni ruangan itu.  Disitulah saya menjumpai tulisan ‘aneh‘ itu.

Mungkin anda bingung, kenapa tulisan itu ada. Sama seperti saya, saya terus menerus memandangi tulisan itu. Sampai direktur itu menyadarinya dan berkata dengan perlahan, “Bapak bingung ya kenapa ada tulisan itu? Hampir semua orang yang bertamu ke sini, pasti menanyakan hal itu.  Bila saya perlu ke kamar mandi, saya pasti keluar dari ruangan ini dan pakai toilet di depan.  Toilet karyawan.  Agar saya bisa berbaur dengan yang lain, bisa ngobrol dengan mereka.  Tapi, kontraktor pembuat Rumah Sakit sudah terlanjut membuat kamar mandi di dalam ruangan direksi ini.  Unutk itu saya taruh tulisan itu, saya tidak mau ruangan toilet ini dipakai oleh SIAPA PUN, pakai yang diluar saja.  Saya tidak mau sombong, mentang-mentang pangkat tertinggi, toilet pun exclusive, harus terpisah dari yang lain. Karena tidak digunakan, maka tidak usah dibersihkan pula.”

WOW !
Satu kata, reaksi saya hanya satu kata.  Dalam perjalanan pulang, saya teringat akan teori manajemen yang pernah saya baca dalam sebuah literatur.  Orang Jepang yang pertama kali mengemukakan itu, tentang “pintu kamar mandi”.
Apa yang dikejar? Pembauran ? Down-to-earth? Efisiensi? Atau sekedar cari sensasi?

Eklusivitas mau dihapuskan, pembauran dilakukan.  Agar gap yang ada di antara top management dengan middle management maupun low management bisa diminimalisir.  Kebanyakan manusia di muka bumi ini bila sudah punya posisi, kekuasaan, kekuatan, mereka merasa “lebih” dari orang lain.  Tidak mau disamakan.  Punya harga yang tinggi.  Tapi itu semua mau dipatahkan dengan “pintu kamar mandi”
Semoga menginspirasi.  Tetap semangat !!

Lantai bawah


Pekerjaan saya mengharuskan saya keluar-masuk Rumah Sakit.  Jabodetabek, Bandung, Jogja, Lampung, Pekanbaru, dll.  Ketika diundang bicara di RS swasta di daerah Bekasi, saya kaget ketika turun ke lantai basement.  Padahal kala itu, saya mau bertemu dengan direktur utama dari rumah sakit itu, tapi kenapa ke basement?  Puluhan rumah sakit telah saya kunjungi, semuanya memiliki kesamaan, kantor manajemennya di lantai paling atas.  Tapi apa yang saya jumpai di RS itu adalah berkebalikan.  Lebih terkejut lagi ketika saya melihat arsitektur di lantai basement sangat berbeda dengan ground floor/lobi.  Lobi begitu mewah dan modern, sedangkan basement sangat sederhana dan terbilang biasa saja.  Ketika bertemu dengan sang direktur, untuk melepas rasa penasaran di dalam dada saya tanyakan, “Kenapa kantornya di basement?  Biasanya kan di lantai paling atas”

“Haha !  kita sengaja berkantor di bawah pak, dengan filosofi membangun dari bawah.  Menopang,” sambil membuat gerakan mengangkat barang dengan dua tangannya.
Sangat berbeda dengan rumah sakit-rumah sakit lainnya yang saya jumpai, di mana kantor manajemennya diletakkan di lantai paling atas.

Dua kata: think out of box dan berani berbeda.
Saya yakin filosofi itu juga dikomunikasikan kepada seluruh jajaran manajemen RS.
Semoga menginspirasi.  Tetap semangat!!

Tuesday, November 29, 2011

Berjalan-jalan tanpa mall


Bosan tiap kali week-end ke mall ?
Kota Jakarta merupakan kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia
Jenuhkah kita ?

Saya punya tips untuk Anda yang mau mencoba sesuatu yang berbeda. Menghabiskan waktu tanpa mall, membuka wawasan dan mengisi jiwa dengan budaya, sebuah makanan untuk jiwa kita.

  1. Pusat kebudayaan
Beberapa Negara mau memiliki pusat kebudayaan di kota Jakarta. Tepisah dari kedutaan, tempat ini biasanya dilengkapi dengan perpustakan, tempat kursus bahasa, auditorium/ruang serba guna.
Tengok saja:
-          Erasmus Huis (Belanda) – Rasuna Said
-          Goethe Haus (German) – Jl. SAM Ratulangi
-          Japan Foundation (Jepang) – Gedung Sumitmas, Sudirman
-          Rusia – Jl Diponegoro, Menteng
-          Italian Institute of Culture Jakarta (Italia) – Menteng
-          Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru - Menteng
-          @america – Pacific Place lt 3
-   Centre Culturel Français de Jakarta (Perancis) - Salemba dan Wijaya


Melihat kebudayaan dari negeri orang lain tidak harus bepergian ke negeri asalnya. Kita dapat menghemat biaya dengan mengunjungi pusat kebudayaan mereka. Acaranya apa saja ? Biasanya rutin ada pemutaran film. Di auditorium kerap kali diadakan acara, tapi itu semua tergantung siapa yang sedang berkunjung, siapa yang menyewa tempat itu, sedang ada program apa. Misalnya: drama/teater, diskusi, konser musik klasik, dialog, piano/ensemble concert, tarian, film screening, pameran seni (lukis, patung, seni rupa).
Untuk tahu jadwal acaranya, ikuti milis dari masing-masing pusat kebudayaan, kunjungi website-nya, atau datang ke venue dan ambil booklet acara (bulanan).

  1. Tempat pertunjukan
Di venue-venue ini jamak digelar pagelaran-pagelaran atau pementasan karya seni pertunjukan. All about performing art. Seperti: tarian, drama, musik.
Beberapa contoh tempat pertunjukan di Jakarta:
-          Taman Ismail Marzuki - Cikini
-          Gedung Kesenian Jakarta - Pasar Baru
-          Teater Salihara - Pasar Minggu
-   Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) - Rasuna Said
-   Bentara Budaya Jakarta - Palmerah

  1. Festival
Serangkaian acara bertema tertentu yang diakan dalam selang waktu tertentu.
Misalnya:
-          Film festival, seperti iNAFFF, JIFFEST
-          Festival makanan/jajanan

  1. Jalan-jalan di tempat terbuka
-          Taman kota: Menteng, Lembang, Mahakam/Ayodya
-          Situ-situ
-          Amusement park: TMII, Ancol, kebun angrek, Kebon Binatang Ragunan, Kota Tua

Amarah


Saat perasaan itu ada
Gelisah di dada
Muka menjadi terlipat
Dan suka pun sirna

Keluarkanlah saja
Jangan kau lama menyimpan
Carilah kawan
Bicarakanlah saja

Tumpahkan semua
Limpahkan semua
Tuangkan semua

Biarlah rasa itu terangkat pergi
Keluar bersama dengan ceritamu
Pergi.

Jika kau kesal dengan dia
Pulang kau bawa batu
Tidur pun kau tak tenang
Lihat… dia tidur pulas sekali

Jadi… untuk apa?
Untuk apa semua itu?
Semua itu untuk apa?

Lepaskan, bebaskan

Wednesday, September 7, 2011

Paku


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. 

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. 

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. 

Mohon maaf lahir dan batin

Terlatih Ditolak - sebuah parodi

Aku sudah mulai lupa Saat pertama kali ditolak Dari penolakanyang halus Hingga diusir dari rumahnya *Terima kasih kalian  Barisan penolakan ...